Tuesday, 28 February 2012

Jelang Kabisat

Nampaknya lidah memang lebih tajam daripada pedang, menusuk tanpa terlihat, merubah suasana begitu cepat. Dan lidah-lidah tajam terus menggerus diri manusia, dengan segala fenomenanya, utamanya jika dia seorang wanita. Apatah itu berupa tanya, rangkaian kata atau segala yang terlontar apa adanya.Karena mereka begitu peka dengan rasa, merasakan kisah-kisah yang berputar dengan jiwa, sepenuh ataupun separuh...

Urusan hati, bukankah dia menjadi rahasia si Pemilik dengan Tuhannya?
******
Malam jelang 29 Februari, ditemani sepi di kantor. Mobil jemputan belum ada. Malam makin larut, sementara esok pekerjaan di akhir bulan sudah menunggu sejak matahari terbit. Entah mengapa jantung lebih cepat berdetak. Adakah sesuatu yang terjadi? Resonansi? Prasangka menari-nari. Pikiran terbang melewati negeri-negeri.

Adakah kenestapaan yang terpalsukan senyuman? Adakah rasa-rasa tak terungkap yang harus tersimpan? Adakah sensor-sensor yang menangkap terlalu beratnya beban?

Apakah ini relativitas yang dikata Einstein itu?
24 Jam terasa begitu cepat berlalu. Masih banyak pekerjaan yang menunggu.
Namun, Maha Besar Dia yang menciptakan dimensi waktu, berjalannya memupus sendu, menumbuhkan semangat baru. Bila berbagai rasa berkecamuk dalam kalbu, apakah itu tanda rindu?



ReAD MoRE・・・

Sunday, 27 November 2011

Sejarah dan Peta

Kita tak bisa mengajarkan Sejarah tanpa melibatkan peta. Setiap kali suatu peristiwa masa lalu (yang kini kita sebut sejarah) terjadi di suatu tempat, ia mengakibatkan hal lain di tempat lain. Selalu ada sebab geografis dalam setiap kejadian penting: penyerangan, perdamaian, pertahanan, ekspedisi, monopoli dagang, perkembangan ilmu.

Saya tidak pernah tahu soal ini. Kalau saya tahu, ingin rasanya membentangkan peta besar di tengah kelas, dengan orang-orangan beraneka bangsa dan kapal-kapal perang di laut. Agar siswa mengerti tentang jalur ekspedisi rempah-rempah, kolonialisme, perang dunia, dan semua yang dihasilkan masa lalu dan akibatnya pada negeri ini. (Irmayanti, 2011)

Seminggu lalu kakak Ipar saya membawa sebuah buku tentang Perang dan Amerika. Sayangnya saya belum sempat membacanya sampai tuntas. Namun dari sedikit yang sudah terbaca telah memicu semangat untuk memahami lagi sejarah dan geografi. Sebutlah dengan melihat peta dunia, wilayah berbagai negeri dan isu terkini yang ternyata sambung-menyambung menjadi satu dengan kejadian di masa lalu. Sudah ada buku dengan tema peta dan sejarah untuk berbagai topik, sayangnya harganya mahall (karena berwarna juga kali yah.... )

Well, ada sedikit cerita tentang Umar bin Abdul Aziz dan Revolusi yang dilakukan dalam pemerintahannya :


Umar Bin Abdul Aziz muncul di persimpangan sejarah umat Islam di bawah kepemimpinan dinasti Bani Umayyah. Pada penghujung abad pertama hijriyah, dinasti ini memasuki usianya yang keenam puluh, atau dua pertiga dari usianya, dan telah mengalami pembusukan internal yang serius. Umar sendiri adalah bagian dari dinasti ini, hampir dalam segala hal. Walaupun pada dasarnya ia seorang ulama yang telah menguasai seluruh ilmu ulama-ulama Madinah, tapi secara pribadi ia juga merupakan simbol dari gaya hidup dinasti Bani Umayyah yang korup, mewah dan boros.

Itu membuatnya tidak cukup percaya diri untuk memimpin ketika keluarga kerajaan memintanya menggantikan posisi Abdul Malik Bin Marwan setelah beliau wafat. Bukan saja karena persoalan internal kerajaan yang kompleks, tapi juga karena ia sendiri merupakan bagian dari persoalan tersebut. Ia adalah bagian dari masa lalu. Tapi pilihan atas dirinya, bagi keluarga kerajaan, adalah sebuah keharusan. Karena Umar adalah tokoh yang paling layak untuk posisi ini.

Ketika akhirnya Umar menerima jabatan ini, ia mengatakan kepada seorang ulama yang duduk di sampingnya, Al-Zuhri, "Aku benar-benar takut pada neraka." Dan sebuah rangkaian cerita kepahlawanan telah dimulai dari sini, dari ketakutan pada neraka, saat beliau berumur 37 tahun, dan berakhir dua tahun lima bulan kemudian, atau ketika beliau berumur 39 tahun, dengan sebuah fakta: reformasi total telah dilaksanakan, keadilan telah ditegakkan dan kemakmuran telah diraih. Ulama-ulama kita bahkan menyebut Umar Bin Abdul Aziz sebagai pembaharu abad pertama hijriyah, bahkan juga disebut sebagai khulafa rasyidin kelima.

Mungkin indikator kemakmuran yang ada ketika itu tidak akan pernah terulang kembali, yaitu ketika para amil zakat berkeliling di perkampungan-perkampungan Afrika, tapi mereka tidak menemukan seseorang pun yang mau menerima zakat. Negara benar-benar mengalami surplus, bahkan sampai ke tingkat dimana utang-utang pribadi dan biaya pernikahan warga pun ditanggung oleh negara.

Memulai dari Diri Sendiri, Keluarga dan Istana Umar Bin Abdul Aziz menyadari dengan baik bahwa ia adalah bagian dari masa lalu. Ia tidak mungkin sanggup melakukan perbaikan dalam kehidupan negara yang luas kecuali kalau ia berani memulainya dari dirinya sendiri, kemudian melanjutkannya pada keluarga intinya dan selanjutnya pada keluarga istana yang lebih besar. Maka langkah pertama yang harus ia lakukan adalah membersihkan dirinya sendiri, keluarga dan istana kerajaan. Dengan tekad itulah ia memulai sebuah reformasi besar yang abadi dalam sejarah.

Begitu selesai dilantik Umar segera memerintahkan mengembalikan seluruh harta pribadinya, baik berupa uang maupun barang, ke kas negara, termasuk seluruh pakaiannya yang mewah. Ia juga menolak tinggal di istana, ia tetap menetap di rumahnya. Pola hidupnya berubah secara total, dari seorang pencinta dunia menjadi seorang zahid yang hanya mencari kehidupan akhirat yang abadi. Sejak berkuasa ia tidak pernah lagi tidur siang, mencicipi makanan enak. Akibatnya, badan yang tadinya padat berisi dan kekar berubah menjadi kurus dan ceking.

Setelah selesai dengan diri sendiri, ia melangkah kepada keluarga intinya. Ia memberikan dua pilihan kepada isterinya, "Kembalikan seluruh perhiasan dan harta pribadimu ke kas negara, atau kita harus bercerai." Tapi istrinya, Fatimah Binti Abdul Malik, memilih ikut bersama suaminya dalam kafilah reformasi tersebut. Langkah itu juga ia lakukan dengan anak-anaknya. Suatu saat anak-anaknya memprotesnya karena sejak beliau menjadi khalifah mereka tidak pernah lagi menikmati makanan-makanan enak dan lezat yang biasa mereka nikmati sebelumnya. Tapi Umar justeru menangis tersedu-sedu dan memberika dua pilihan kepada anak-anak, "Saya beri kalian makanan yang enak dan lezat tapi kalian harus rela menjebloskan saya ke neraka, atau kalian bersabar dengan makanan sederhana ini dan kita akan masuk surga bersama."

Selanjutnya, Umar melangkah ke istana dan keluarga istana. Ia memerintahkan menjual seluruh barang-barang mewah yang ada di istana dan mengembalikan harganya ke kas negara. Setelah itu ia mulai mencabut semua fasilitas kemewahan yang selama ini diberikan ke keluarga istana, satu per satu dan perlahan-lahan. Keluarga istana melakukan protes keras, tapi Umar tetap tegar menghadapi mereka. Hingga suatu saat, setelah gagalnya berbagai upaya keluarga istana menekan Umar, mereka mengutus seorang bibi Umar menghadapnya.

Boleh jadi Umar tegar menghadapi tekanan, tapi ia mungkin bisa terenyuh menghadapi rengekan seorang perempuan. Umar sudah mengetahui rencana itu begitu sang bibi memasuki rumahnya. Umar pun segera memerintahkan mengambil sebuah uang logam dan sekerat daging. Beliau lalu membakar uang logam tersebut dan meletakkan daging diatasnya. Daging itu jelas jadi "sate." Umar lalu berkata kepada sang bibi: "Apakah bibi rela menyaksikan saya dibakar di neraka seperti daging ini hanya untuk memuaskan keserakahan kalian? Berhentilah menekan atau merayu saya, sebab saya tidak akan pernah mundur dari jalan reformasi ini."

Langkah pembersihan diri, keluarga dan istana ini telah meyakinkan publik akan kuat political will untuk melakukan reformasi dalam kehidupan bernegara, khususnya dalam pemberihan KKN. Sang pemimpin telah telah menunjukkan tekadnya, dan memberikan keteladanan yang begitu menakjubkan.

Gerakan Penghematan

Langkah kedua yang dilakukan Umar Bin Abdul Aziz adalah penghematan total dalam penyelenggaraan negara. Langkah ini jauh lebih mudah dibanding langkah pertama, karena pada dasarnya pemerintah telah menunjukkan kredibilitasnya di depan publik melalui langkah pertama. Tapi dampaknya sangat luas dalam menyelesaikan krisis ekonomi yang terjadi ketika itu.

Sumber pemborosan dalam penyelenggaraan negara biasanya terletak pada struktur negara yang tambun, birokrasi yang panjang, administrasi yang rumit. Tentu saja itu disamping gaya hidup keseluruhan dari para penyelenggara negara. Setelah secara pribadi beliau menunjukkan tekad untuk membersihkan KKN dan hidup sederhana, maka beliau pun mulai membersihkan struktur negara dari pejabat korup. Selanjutnya beliau merampingkan struktur negara, memangkas rantai birokrasi yang panjang, menyederhanakan sistem administrasi. Dengan cara itu negara menjadi sangat efisien dan efektif.

Simaklah sebuah contoh bagaimana penyederhanaan sistem administrasi akan menciptakan penghematan. Suatu saat gubernur Madina mengirim surat kepada Umar Bin Abdul Aziz meminta tambahan blangko surat untuk beberapa keperluan adminstrasi kependudukan. Tapi beliau membalik surat itu dan menulis jawabannya, "Kaum muslimin tidak perlu mengeluarkan harta mereka untuk hal-hal yang tidak mereka perlukan, seperti blangko surat yang sekarang kamu minta."

Redistribusi Kekayaan Negara

Langkah ketiga adalah melakukan redistribusi kekayaan negara secara adil. Dengan melakukan restrukturisasi organisasi negara, pemangkasan birokrasi, penyederhanaan sistem administrasi, pada dasarnya Umar telah menghemat belanja negara, dan pada waktu yang sama, mensosialisasikan semangat bisnis dan kewirausahaan di tengah masyarakat. Dengan cara begitu Umar memperbesar sumber-sumber pendapatan negara melalui zakat, pajak dan jizyah.

Dalam konsep distribusi zakat, penetapan delapan objek penerima zakat atau mustahiq, sesungguhnya mempunyai arti bahwa zakat adalah sebentuk subsidi langsung. Zakat harus mempunyai dampak pemberdayaan kepada masyarakat yang berdaya beli rendah. Sehingga dengan meningkatnya daya beli mereka, secara langsung zakat ikut merangsang tumbuhnya demand atau permintaan dari masyarakat, yang selanjutnya mendorong meningkatnya suplai. Dengan meningkatnya konsumsi masyarakat, maka produksi juga akan ikut meningkat. Jadi, pola distribusi zakat bukan hanya berdampak pada hilangnya kemiskinan absolut, tapi juga dapat menjadi faktor stimulan bagi pertumbuhan ekonomi di tingkat makro.

Itulah yang kemudian terjadi di masa Umar Bin Abdul Aziz. Jumlah pembayar zakat terus meningkat, sementara jumlah penerima zakat terus berkurang, bahkan habis sama sekali. Para amil zakat berkeliling di pelosok-pelosok Afrika untuk membagikan zakat, tapi tak seorang pun yang mau menerima zakat. Artinya, para mustahiq zakat benar-benar habis secara absolut. Sehingga negara mengalami surplus. Maka redistribusi kekayaan negara selanjutnya diarahkan kepada subsidi pembayaran utang-utang pribadi (swasta), dan subsidi sosial dalam bentuk pembiayaan kebutuhan dasar yang sebenarnya tidak menjadi tanggungan negara, seperti biaya perkawinan. Suatu saat akibat surplus yang berlebih, negara mengumumkan bahwa "negara akan menanggung seluruh biaya pernikahan bagi setiap pemuda yang hendak menikah di usia muda."

Mengapa sejarah tak berulang?

Sejarah selalu hadir di depan kesadaran kita dengan potongan-potongan zaman yang cenderung mirip dan terduplikasi. Pengulangan-pengulangan itu memungkinkan kita menemukan persamaan-persamaan sejarah, sesuatu yang kemudian memungkinkan kita menyatakan dengan yakin, bahwa sejarah manusia sesungguhnya diatur oleh sejumlah kaidah yang bersifat permanen. Manusia, pada dasarnya, memiliki kebebasan yang luas untuk memilih tindakan-tindakannya. Tetapi ia sama sekali tidak mempunyai kekuatan untuk menentukan akibat dari tindakan-rindakannya. Tetapi karena kapasitas manusia sepanjang sejarah relatif sama saja, maka ruang kemampuan aksinya juga, pada akhirnya, relatif sama.

Itulah sebab yang memungkinkan terjadinya pengulangan-pengulangan tersebut. Tentu saja tetap ada perbedaan-perbedaan waktu dan ruang yang relatif sederhana, yang menjadikan sebuah zaman tampak unik ketika ia disandingkan dengan deretan zaman yang lain.

Itu sebabnya Allah Subhaanahu wa ta'ala memerintahkan kita menyusuri jalan waktu dan ruang, agar kita dapat merumuskan peta sejarah manusia, untuk kemudian menemukan kaidah-kaidah permanen yang mengatur dan mengendalikannya. Kaidah-kaidah permanen itu memiliki landasan kebenaran yang kuat, karena ia ditemukan melalui suatu proses pembuktian empiris yang panjang. Bukan hanya itu, kaidah-kaidah permanen itu sesungguhnya juga mengatur dan mengendalikan kehidupan kita. Dengan begitu sejarah menjadi salah satu referensi terpenting bagi kita, guna menata kehidupan kita saat ini dan esok.

Sejarah adalah cermin yang baik, yang selalu mampu memberi kita inspirasi untuk menghadapi masa-masa sulit dalam hidup kita. Seperti juga saat ini, ketika bangsa kita sedang terpuruk dalam krisis multidimensi yang rumit dan kompleks, berlarut-larut dan terasa begitu melelahkan. Ini mungkin saat yang tepat untuk mencari sepotong masa dalam sejarah, dengan latar persoalan-persoalan yang tampak mirip dengan apa yang kita hadapi, atau setidak-tidaknya pada sebagian aspeknya, untuk kemudian menemukan kaidah permanen yang mengatur dan mengendalikannya

Masalah di Ujung Abad

Ketika Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wa sallam menyatakan sebuah ketetapan sejarah, bahwa di ujung setiap putaran seratus tahun Allah Swt akan membangkitkan seorang pembaharu yang akan akan mempebaharui kehidupan keagamaan umat ini. Ketetapan itu menjadikan masa satu abad sebagai sebuah besaran waktu yang memungkinkan terjadinya pengulangan-pengulangan masalah, rotasi pola persoalan-persoalan hidup. Ketetapan itu juga menyatakan adanya fluktuasi dalam sejarah manusia, masa pasang dan masa surut, masa naik dan masa turun. Dan titik terendah dari masa penurunan itulah Allah Swt akan membangkitkan seorang pembaharu yang menjadi lokomotif reformasi dalam kehidupan masyarakat.


Itulah yang terjadi di ujung abad pertama hijriyah dalam sejarah Islam. Sekitar enam puluh tahun sebelumnya, masa khulafa rasyidin telah berakhir dengan syahidnya Ali bin Abi Thalib. Muawiyah bin Abi Sofyan yang kemudian mendirikan dinasti Bani Umayyah di Damaskus, mengakhiri sistem khilafah dan menggantinya dengan sistem kerajaan. Pemimpin tertinggi dalam masyarakat Islam tidak lagi dipilih, tapi ditetapkan.

Perubahan pada sistem politik ini berdampak pada perubahan perilaku politik para penguasa. Secara perlahan mereka menjadi kelompok elit politik yang eksklusif, terbatas pada jumlah tapi tidak terbatas pada kekuasaan, sedikit tapi sangat berkuasa. Sistem kerajaan dengan berbagai perilaku politik yang menyertainya, biasanya secara langsung menutup katup politik dalam masyarakat dimana kebebasan berekspresi secara perlahan-lahan dibatasi, atau bahkan dicabut sama sekali. Itu memungkinkan para penguasa menjadi tidak tersentuh oleh kritik dan tidak terjangkau oleh sorot mata masyarakat. Tidak ada keterbukaan, tidak ada transparansi.

Dalam keadaan begitu para penguasa memiliki keleluasaan untuk melakukan apa saja yang mereka ingin lakukan. Maka penyimpangan politik segera berlanjut dengan penyimpangan ekonomi. Kezaliman dalam distribusi kekuasaan dengan segera diikuti oleh kezaliman dalam distribusi kekayaan. Yang terjadi pada mulanya adalah sentralisasi kekuasaan, tapi kemudian berlanjut ke sentralisasi ekonomi. Keluarga kerajaan menikmati sebagian besar kekayaan negara. Apa yang seharusnya menjadi hak-hak rakyat hanya mungkin mereka peroleh berkat "kemurahan hati" pada penguasa, bukan karena adanya sebuah sistem ekonomi yang memungkinkan rakyat mengakses sumber-sumber kekayaan yang menjadi hak mereka. Bukan hanya KKN yang terjadi dalam keluarga kerajaan, tapi juga performen lain yang menyertainya berupa gaya hidup mewah dan boros. Negara menjadi tidak efisien akibat pemborosan tersebut. Dan pemborosan, kata ulama-ulama kita, adalah indikator utama terjadinya kezaliman dalam distribusi kekayaan. Jadi ada pemerintahan yang korup sekaligus zhalim, penuh KKN sekaligus mewah dan boros, tidak bersih, tidak efisien dan tidak adil.

Itulah persisnya apa yang terjadi pada dinasti Bani Umayyah. Berdiri pada tahun 41 hijriyah, dinasti Bani Umayyah berakhir sekitar 92 tahun kemudian, atau tepatnya pada tahun 132 hijriyah. Tapi sejarah dinasti ini tidaklah gelap seluruhnya. Dinasti ini juga mempunyai banyak catatan cemerlang yang ia sumbangkan bagi kemajuan peradaban Islam. Salah satunya adalah cerita sukses yang tidak terdapat atau tidak pernah terulang pada dinasti lain ketika seorang laki-laki dari klan Bani Umayyah, dan merupakan cicit dari Umar Bin Khattab, yaitu Umar Bin Abdul Aziz, muncul sebagai khalifah pada penghujung abad pertama hijriyah.

Yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz adalah mempertemukan keadilan dengan kemakmuran. Ketika pemimpin yang saleh dan kuat dihadirkan di persimpangan sejarah, untuk menyelesaikan krisis sebuah umat dan bangsa. Dan itu bisa saja terulang, kalau syarat dan kondisi yang sama juga terulang. Dan inilah masalah kita, pengulangan sejarah itu tidak terjadi, karena syaratnya tidak terpenuhi..

-Taufik Muhammad (2006)


ReAD MoRE・・・

Update 2 Bulan

Selamat Baru 1433 H!

Dua bulan terlewat sudah sejak terkahir kali blog ini diupdate. Bahkan salah satu momen terpenting dalam hidup saya tidak terdokumentasi di sini saking sibuknya *halah*

Momen tahun baru sekaligus buat flash back 2 bulan terakhir ahh...

September :
1. Conference di Aidai
2. Pulang mudik ke kampung halaman
3. Menikah
4. Minggu madu
5. Pindahan ke kota tempat kerja
6. Mengantar istri ke Jepang

Fyuh... alhamdulillah jadwal super padat terlewati dengan lancar.

Oktober :
1. Kerja, kerja, kerja. Huhu, ternyata dimana-mana yg namanya kerja itu sibuk ya.
2. Silaturahim kesana kemari di akhir pekan.

'Humm, sebulan terlewat tanpa terasa...@

Nopember :
1.Reuni angkatan SMA. Wew...
2.Mudik lagi pas Idul Adha :-)
3.kumpul keuraga besar mertua
4.Papai back to U.S

Demikian sekilas update, naluri menulis belum kembali T_____T


ReAD MoRE・・・

Friday, 9 September 2011

lapar Mata


Lapar mata, karena ternyata saya sudah lama tidak membaca. Momen yang tepat saat saya hendak mudik banyak resensi buku yang membuat budget harus dikotak-kotak lagi supaya ada sisa uang untuk membeli buku-buku berikut :

1. 99 Cahaya di Langit Eropa.
*Jeder!!* Keduluan. Sebagai efek samping research saya ke Jerman tahun lalu, menulis tentang jejak kejayaan islam di Eropa sudah diniatkan sejak sebelum naik pesawat dari Jepang. Keinginan menghasilkan 'karya lain' selain laporan tertulis ke universitas sebenarnya menjadi motivasi saat menulis proposal reserach (baca: minta dana :-P ) ke kampus...Ingin membaca buku ini lalu siapa tahu bisa menambahkan poin-poin yang belum tersampaikan yang terjaring dalam pengetahuan saya. *Tapi kapan yah nulisnya? hiks...*

Berikut resensinya [di tulis oleh Mbak Dee (Rahmadiyanti)] :

Judul: 99 Cahaya di Langit Eropa
Penulis: Hanum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra
Penerbit: Gramedia, 2011
Tebal: 424 hlm

Dalam lintasan sejarah, selalu ada sekelompok manusia yang merasa lebih baik, lebih unggul, lebih superior dari manusia lain, yang kemudian melahirkan istilah rasisme. Rasisme juga yang jadi salah satu faktor pendorong diskriminasi, kekerasan sosial, bahkan yang lebih parah: genosida--pembantaian/pemusnahan sebuah kelompok/suku bangsa oleh kelompok lain. Sebut misalnya yang dilakukan Julius Caesar terhadap bangsa Helvetia. Bangsa Anglo Saxon terhadap suku Keltik. Nazi terhadap kaum Yahudi dan Slavia. Khmer Merah terhadap rakyat Kamboja. Hingga pembantaian bangsa Bosnia oleh Serbia dan suku Hutu terhadap Tutsi,di Afrika.

Tanpa bermaksud menafikan rasisme yang juga banyak terjadi pada agama lain, sepertinya abad ini Islam (dan kaum muslim) menjadi sorotan utama dan dalam banyak kasus mengalami berbagai diskriminasi. Peristiwa 911 (tampaknya kejadian ini harus selalu disebut) seperti menjadi faktor penguat Islam vis a vis Barat (baca Amerika dan Eropa). Meski kecurigaan-kecurigaan selalu ada di kedua belah pihak, banyak pihak berusaha mengubah stigma "berhadap-hadapan" tersebut, menjadi stigma "saling menguatkan" (kutipan endorsement Anies Baswedan). Salah satunya buku ini.

Bertutur gaya fiksi, dengan bernas--dan dalam banyak sisi menguras emosi--penulis menyampaikan jejak dan pertautan Islam dengan Eropa melalui perjalanannya menapaki beberapa kota di Eropa, antara lain; Wina, Paris, Cordoba, Granada, dan Istanbul. Sekali duduk saja saya membaca buku setebal hampir 400 halaman ini. Penuturan penulis sangat lancar, tak bergenit diksi, tapi tetap meninggalkan rasa sastra yang cukup dalam. Pesan-pesan bertaburan, tapi tersampaikan dengan cantik. Tentang peradaban Islam yang (pernah) memukau, tentang keagungan tokoh-tokoh muslim masa lalu--sekaligus kesalahan besar yang pernah dilakukan, juga tentang "kekalahan" kaum muslim.

Melalui tokoh Fatma misalnya, penulis menyampaikan pesan dakwah yang cantik, membalas perlakukan buruk non muslim dengan kebaikan. Jujur saya iri dengan Fatma, muslimah "biasa" imigran dari Turki yang dengan cerdas menjadi agen Islam.

Melalui tokoh Marion, kita diajak menelusuri "rahasia-rahasia" yang mungkin tak banyak kita ketahui dari Museum Louvre dan Arc de Triomphe yang berkenaan dengan Islam.

Melalui Der Wiener Deewan, sebuah restoran berkonsep All you can eat, pay as wish di Wina, kita diajak menyelami makna ikhlas.

Dan masih banyak keping-keping perjalanan penulis yang akan menyadarkan kita, betapa Islam begitu mulia, begitu agung, tapi seringkali umatnya lah yang membuat jelek imej Islam. Seperti kisah Kara Mustafa Pasha, yang disampaikan dengan begitu menyayat hati.

Setelah Selimut Debu dan Garis Batas, buku ini adalah buku traveling tak biasa yang saya suka. Semoga lekas hadir buku berikutnya dari penulis :)



2. 101 Info tentang Ilmuwan Muslim
[Siap-siap kalau ntar diamanahi anak-anak :-P ]
Penulis : Ridwan Abqari
Penerbit : DAR! Mizan
Tebal : 68 hal (tipis euy.... )
lmuwan-ilmuwan muslim yang terangkum di dalam buku ini mungkin sebagian sudah sering kita baca di berbagai sumber. Tapi merangkum dan membukukannya dengan simpel, menarik, dan mudah mengerti oleh anak-anak, menurut saya tak mudah. Buku ini berhasil mengumpulkan informasi tersebut dan mengolahnya dengan baik. Bagus banget buat orangtua untuk menambah wawasan dan memotivasi anak. Pesan lain yang juga penting, betapa sebagian besar ilmuwan muslim adalah manusia-manusia multi-talent dan lintas-ilmu. Ya ahli ilmu alam, ya filsuf, ya jago bikin syair indah.


3. HEBATNYA BUNDAKU (Dewi Mulyani) - DAR! Mizan, 2011.

Kumpulan kisah tentang ibunda para sahabat Nabi dan tokoh Islam seperti imam mahzab, dalam mendidik anak. Ada beberapa kisah yang sudah banyak diangkat, tapi sebenarnya kisah seperti ini, dibaca berulang kali pun akan selalu meninggalkan hikmah.

4. The BEST ADVICES OF SAYYIDINA ALI FOR LEADER - GIP, 2009, 58 hlm.
Buku kecil-tipis tapi isinya dahsyat. Surat Ali bin Abi Thalib, r.a, yang kala itu menjadi khalifah, kepada gubernur Mesir, Malik bin Harits Al Asytar. Berisi prinsip-prinsip dasar mengatur negara yang jika saja benar-benar diterapkan pada masa itu (juga masa kini), tak perlu diragukan betapa akan tercipta sebuah negara madani dengan pemimpin yang mumpuni. Dari pesan mengayomi rakyat, memilih staf pemerintah, angkatan bersenjata, hingga soal pajak dan penimbunan barang. Saya membayangkan pemimpin-pemimpin sekarang ketika dilantik juga disodorkan "mou" seperti ini :)


Dicukupkan dulu kana... setelah beli dan baca insyaAllah akan bikin resensi versi sendiri ^_^
(packing-packing-packing-packing-packing laaageeeeeeeeee)



ReAD MoRE・・・

Monday, 29 August 2011

Catatan di hari ke-29

Diriwayatkan dari Hasan, ia berkata, “Sesungguhnya Allah telah menjdikan Ramadhan sebagai ajang perlombaan bagi hamba-hambaNya. Mereka berlomba dalam rangka ketaatan dan meraih keridhaanNya. Lalu sebagian orang berlomba dengan gigih sehingga mencapai kesuksesan, sebagian orang tertinggal di belakang sehingga mendapat kekecewaan. Sungguh menakjubkan sikap orang yang bersenda gurau sambil tertawa di hari Raya Idul Fitri dimana orang-orang berbuat baik yang meraih kemenangannya dan sebagian lagi yang meraih kerugian"

*+*+*+*+*+*+*+*+*+*+*+*


Sunu mengucapkan Selamat hari Raya Idul Fitri 1432 H.

(Bersamaan dengan 30 Agustus 2011 sesuai hasil keputusan panitia Hilal islamic center Jepang pada malam 29 Agustus 2011 ^_^). Tahun ini Sholat ied untuk masyarakat Nagoya dan sekitarnya diselenggaraan di Port Messe Kinjo Futo, 24 menit dari Nagoya station dengan Aonami line. Jam 10:00 dijadwalkan sholat akan dimulai.

TaqobalAllahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum qiyamana wa qiyamakum. Kullu'am wa antum bi khyair.

*hiks sedihnya Ramadan sudah pergi... T___T *



*Hadits seputar akhir Ramadan, diambil dari buku Bughyatul Insan Fi Wazhaaif Ramadhan, (edisi terjemah : Mutiara Ramadhan Yang Terabaikan) karya Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah*


Salah seorang salaf berkata. “Kaum salaf biasanya berdoa selama enam bulan agar sempat bertemu Ramadhan. Kemudian mereka berdoa selama enam bulan pula agar amalan mereka pada bulan Ramadhan diterima.”

Suatu ketika Umar bin Abdul Aziz keluar untuk melaksanakan shalat hari raya Idul Fithri , lalu beliau berkata dalam khutbahnya, “Wahai sekalian manusia,sesungguhnya kamu telah berpuasa karena Allah selama tiga puluh hari, berdiri melakukan shalat selama tiga puluh hari pula, dan pada hari ini kamu keluar seraya memohon kepada Allah untuk menerima amalan tersebut.

Salah seorang salaf nampak sedih pada hari raya Idul Fitri. Maka ditanyakan kepadanya, "Sesungguhnya hari ini adalah hari bersuka ria dan bersenang‐senang.” Maka ia berkata, “Perkataan kamu benar, akan tetapi aku ini hanyalah seorang hamba yang diperintahkan oleh Tuhanku untuk mempersembahkan suatu amalan padaNya. Sungguh aku tidak tahu apakah amalanku diterima atau tidak.

Suatu ketika Wuhaib bin Al‐Ward melihat suatu kaum yang tertawa riang pada hari raya Idul Fithri, maka ia berkata, “Jika mereka itu adalah orang‐orang yang diterima amalannya, maka sesungguhnya bukan seperti itu ekspresi orang‐orang yang bersyukur. Dan, jika amalanmereka tidak diterima, maka bukan seperti itu sikap orang‐orang yang takut.”

Diriwayatkan dari Hasan, ia berkata, “Sesungguhnya Allah telah menjadikan bulan Ramadhan sebagai ajang perlombaan bagi hamba‐hambaNya. Mereka berlomba dalam rangka ketaatan dan meraih keridhaanNya. Lalu sebagian orang berlomba dengan gigih sehingga mereka mencapai kesuksesan, dan sebagian lagi tertinggal di belakang sehingga mendapat kekecewaan. Maka sungguh menakjubkan sikap seseorang yang bersenda-gurau sambil tertawa pada hari dimana orang‐orang berbuat baik meraih kemenangan dan orang‐orang yang berbuat bathil ditimpa kerugian.

Diriwayatkan dari Ali radhiallahu ‘anhu bahwasannya beliau biasa berseru pada penghujung malam bulan Ramadhan, “Aduhai andai aku tahu, siapakah gerangan yang diterima amalan‐amalannya agar aku dapat memberi ucapan selamat kepadanya, dan siapakah gerangan yang ditolak amalan‐amalannya agar aku dapat melayatnya.”

Hal ini mirip dengan perkataan Ibnu Mas’ud, “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalannya untuk kita beri ucapan selamat, dan siapakah gerangan di antara kita ditolak amalannya untuk kita layat. Wahai, orang yang diterima amalanya, berbahagialah Anda. Dan wahai orang yang ditolak amalannya, keperkasaan Allah musibah Anda.”


ReAD MoRE・・・